Tiga minggu pertama di Eindhoven: daftar sepuluh besar

Ternyata sudah tiga minggu sejak kaki ini menginjak tanah Belanda. Meski ini baru serambut dari segenap pengembaraan akademisku di sini, rasanya baik kalau aku cerita mengenai kesan pertama. Seperti kata orang, “kesan pertama paling berkesan” (first impression impresses the most) sebab di situlah terjadi tabrakan fenomena antara diri yang dibentuk masa lalu dengan realitas sekitar.

Memang, teori mengatakan bahwa bulan-bulan pertama di negeri orang disebut sebagai Tahap Bulan Madu. Layaknya turis yang ada dalam euforia bulan madu, pada tahap ini kita akan merasa senang dengan perbedaan-perbedaan, bahkan kondisi-kondisi tidak menyenangkan, yang ada. Gumaman “di sini ternyata begitu ya” akan mudah terlontar tanpa ada kesadaran mendalam akan kewajiban diri untuk beradaptasi.

Tahap yang berat–Tahap Penolakan–akan datang nanti ketika kesulitan-kesulitan itu mulai merasuki hidup keseharian. Saat itu, segala sesuatu yang “tidak cocok” akan selalu dikaitkan dengan kenyataan bahwa kita ada negara lain (padahal itu mungkin sering terjadi di negara sendiri). Di situ, bukan saja fenomena sesaat yang bertabrakan, tetapi juga rutinitas, kebiasaan, ritual, nilai, norma, gaya hidup, dan falsafah hidup. Ruang untuk toleransi pun mengecil. Konon, penyakit rindu rumah   (homesick)  ataupun rindu pasangan (lovesick) akan menjadi akut di tahap ini. 

Aku tidak akan bercerita panjang mengenai teori ini. Fokus tulisan kali ini, sekali lagi, adalah kesan pertama. Kalau nanti aku sudah masuk Tahap Penolakan dan sudah muak dengan negeri bekas penjajah ini, mungkin nanti aku akan cerita panjang lagi sebagai bentuk pengobatan, kalau tidak mau disebut pelarian.

Ada sepuluh besar hal yang paling menarik di Eindhoven–setidaknya sampai saat ini. Daftar akan diurut berdasarkan yang paling berkesan secara negatif (“gak gue banget”) sampai yang paling positif (“wah, coba di Indonesia kayak gini!”). Mari.

10.  Musik

Di mana ada anak muda, di situ ada musik. Di taman kampus, stasiun, bar, lapangan, tempat BBQ, hampir di mana-mana. Mereka suka sekali meletakkan sofa ke taman, memasang speaker besar lalu kongko-kongko sambil dengar musik. Kadang juga mereka membawa boom box besar dan memutar lagu keras-keras sambil menunggu bus.

Sayang sejuta sayang, selera musiknya agak tidak cocok dengan kupingku,  kalau tidak bisa disebut kuping Indonesia. Mengapa? Karena sekitar 70% isinya house music . Kalau ada musik pop, itu pun kebanyakan aransemen “jedak-jeduk.” Sisanya adalah lagu Belanda yang membuat kami mahasiswa internasional hanya ngangguk-ngangguk mengikuti irama dan cuap-cuap tanpa kepastian.

Lama kelamaan, kalau dipikir-pikir dan dibayang-bayangkan, kami jadi kangen juga dengan ST12, Wali, Rhoma Irama, dan kawan-kawannya. “Kalau SM*SH manggung, sampai pukul berapa juga saya tungguin deh,” ujar Gayuhaningtyas, seorang kawan  yang saya yakin tidak akan memasukkan SM*SH di daftar sepuluh besar grup musik kesukaannya. Ketika berada di pub pun, sesekali kami mengangkat kedua jempol ke atas kepala sambil membayangkan tarikan musik dangdut. Yah, bagaimanapun, mungkin manusia punya kecenderungan untuk kembali ke “selera asal.”

Untungnya, masih ada Frits Philips Muziekgebouw yang menyajikan musik klasik. Ada orkestra lokal, “Het Brabants Orkest” (Noord-Brabant adalah nama provinsi di tempat tinggalku sekarang), yang  sebulan dua-tiga kali memainkan karya-karya dari zaman Baroque seperti “Matthäus-Passion”-nya Bach sampai pada karya zaman Romantik Akhir seperti “Symfonie no. 1 ‘Titan’” gubahan Mahler. Ini adalah orkestra yang menjual tiket paling murah: “kasta terendah”-nya €16 (~Rp200ribu).

Ada juga kadang-kadang orkestra impor seperti Bach Collegium Japan arahan Masaaki Suzuki ataupun London Philharmonic Orchestra, meski lebih mahal. Kalau mau nonton Ton Koopman, sang maestro Baroque sekaligus guru dari Dr. Billy Kristanto, harus ke Concertgebouw Amsterdam (baca: tambah ongkos). Aku pun berpesan kepada diriku sendiri: berhemat dan menabunglah hai Victor Samuel!

9.  Bir dan Bar

Rasanya sulit memisahkan kedua hal ini satu dengan yang lain. Lebih sulit lagi memisahkan keduanya dari kehidupan orang-orang di sini. Baru-baru ini aku mengikuti seminar tentang kecanduan di TU/e. Secara statistik, orang-orang di provinsi Noord-Brabant minum alkohol paling banyak dibanding sebelas provinsi lain. Artinya, di seluruh Belanda, aku berada di provinsi yang paling “biasa” ngebir. Fakta: di toko,  bir dijual lebih murah daripada air mineral.

Salah satu bar yang kami kunjungi

Bar, atau pub, adalah tempat utama bagi mahasiswa di sini untuk bersenang-senang di akhir pekan. Apalagi didukung fakta bahwa di Eindhoven, bahkan di seluruh Belanda, tidak ada mal–tempat yang digemari muda-mudi Indonesia untuk “jalan.” Bukan saja mal, tempat karaoke seperti Inul Vista dan Nav juga tak akan ditemukan. Bioskop pun cuma sebiji di seluruh penjuru kota terbesar kelima Belanda ini. Restoran jelas bukanlah pilihan yang tepat untuk dikunjungi sering, mengingat harganya yang melangit. Musik yang “membius” dan bir yang murah menyebabkan bar dijadikan pilihan rutin.

Tak heran, di acara-acara TU/e Introduction Program (“ospek” mahasiswa baru TU/e) yang baru berakhir kemarin, bir dan bar adalah salah satu hiburan utama yang disajikan.  Salah satu hari, kami tur keliling bar: mengunjungi enam bar–ya, enam!–dalam satu malam. Bahkan di acara penutup esoknya, kami “mandi” bir. Memang kalau masalah partij, orang Belanda jago banget. Lihat betapa “seru”-nya itu di video berikut.

Tapi, menurutku, nongkrong di bar bukanlah media yang paling mangkus untuk memperdalam relasi dengan teman. Saat itu, kuperhatikan, yang dilakukan orang cuma dua: minum dan joget. Suara musik terlalu keras dan tidak mendukung diskusi. Mungkin memang tujuan utama dari ngebir dan ngebar bukanlah memperdalam pengenalan dan kerjasama satu sama lain, tetapi lebih kepada kenikmatan perseorangan melalui musik dan minuman.

Meskipun aku tidak akan menjadi sepenuhnya anti terhadap bar dan bir, ada baiknya aku mengikuti saran manusia terbijak dalam sejarah, “anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.”

Bersambung.

 

9 comments to Tiga minggu pertama di Eindhoven: daftar sepuluh besar

  1. airlanggaadi mengatakan:

    Welcome to Netherland :)

  2. Ruth mengatakan:

    hey vic, how are you? welcome to the beer capital of Europe! hahaha but actually beer capital of The Netherlands is in Amsterdam (remember Heineken?), go there soon, everything is quite close in Holland, right? and yes, I am really agree with their party habit, take care over there, ambil jurusan apa disana?

  3. Virgin mengatakan:

    Waiting for the next 8 things on the list.
    *I already have some assumptions B-)
    Postingnya jangan sebulan lagi ye, keburu lu masuk tahap penolakan. hohoo.. :P

  4. riantidm mengatakan:

    Itu baru eindhoven, kalau lihat amsterdam jij bisa komen lbh banyak. PS: jgn sekali2 lewat red light district.

    • Victor Samuel mengatakan:

      Haha. sudah lewat beberapa minggu lalu. serem ih. pulang-pulang masih kebayang, sambil bersenandung bait-bait dalam lagu “People Need The Lord.”

  5. endriadi mengatakan:

    dodol, mintalah hikmat, keteguhan hati untuk menyelesaikan studi dengan baik, waspada dengan godaan keinginan dirimu yang mau menjadi serupa agar bisa diterima, justru kamu harus tetap jadi terang di tempat yang telah memasuki era post-christianity itu! Tetap semangat menderita dan nikmatilah perjuanganmu. Aku dan teman2 akan menunggumu pulang siap dengan palu, parang dan kapak untuk menghajarmu dengan segenap kasih jika kamu pake anting atau bawa cowo ksini, hahaha!

  6. Ivan Pradibta mengatakan:

    eit..mulai kasmaran nih sama amsterdam…

    setahu saya bir memang murah di eropa sebab jaman dahulu lebih sulit mencari air minum daripada membuat bir dari tumbuhan.
    Bahkan ada satu artikel di sebuah koran (lupa namanya) bahwa orang eropa dulu minum bir kayak minum air putih kalau di sini. Hohohohohhhoo

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s