6. Waktu kerja
Aku, yang pernah lama tinggal di Jakarta dan Bandung, cukup terbelalak dengan waktu kerja orang sini. Secara umum, toko-toko dan perkantoran buka sekitar pukul 10:00. Yang mengherankan adalah waktu tutupnya: pukul 18:00. Pukul enam sore!
Tentu bagi kawan-kawan “anak gaul” Indonesia, pukul 18:00 itu serasa masih pagi. “Bencong aja baru dandan,” ujar Tobing, kawanku.
Lebih-lebih lagi saat hari Minggu. Di hari ketika mal-mal besar Jakarta ramai dikunjungi manusia segala usia, nyaris semua gerai Eindhoven–sebagaimana kota-kota lain di Eropa–menutup gerbangnya rapat-rapat sepanjang hari. Kota yang berpenduduk dua juta jiwa ini pun tersenyap. Bahkan, di jalan besar bisa terdengar keras suara keheningan diselingi gemerisik daun yang dipintasi angin.
Usut punya usut, pola waktu kerja “pulang cepat” ini sengaja ditetapkan pemerintah supaya para suami jangan terlalu lama berpisah dengan istri yang seharian menunggu di rumah, supaya anak tidak kehilangan masa kecil bersama orang tuanya, dan supaya para magang masih bisa borrel (nongkrong sambil minum-minum di bar) bersama kawan dan pacarnya.
Sedangkan, libur di hari Minggu sepertinya terkait dengan konsep hari perhentian (hari Sabat) dalam tradisi Kristen. Pada Abad Pertengahan, kebudayaan dan pendidikan bangsa-bangsa Eropa terpusat di Gereja Katolik Roma. Dan bagi Gereja, hari Minggu adalah hari untuk beristirahat secara rohani maupun jasmani. Pun, hari Sabtu orang-orang libur karena di dalam tradisi Kristen, hari sebelum Sabat, yakni Sabtu, adalah “hari persiapan” (Luk 23:54) untuk menyambut datangnya hari Sabat.
Sehingga, meskipun sebagian besar penduduk di sini sudah tidak lagi ke gereja (kecuali saat dibaptis, menikah, dan dikubur) dan esensi Sabat pun sudah kehilangan aspek rohaninya (“hari persiapan” malah menikmati bar dan bir), tradisi ini masih kuat mengakar dalam kehidupan keseharian orang Eropa.
Di satu sisi, aku setuju. Bagaimanapun manusia butuh istirahat. tidak terkecuali mahasiswa. Meskipun mungkin di antara pembaca ada yang sangat suka belajar sampai lupa waktu libur, mengistirahatkan tubuh dan jiwa adalah hal yang asasi sebagai manusia. Itulah mengapa istilah workaholic tidak dianggap masyarakat umum sebagai hal positif.
Tapi di sisi lain, aku merasa kehilangan “pelayanan” di Bandung yang menyediakan segala sesuatu sampai larut malam. Mulai dari sistem transportasi umum (meski beberapa wilayah jenisnya bergantian antara angkot dan ojeg), makanan (“Lapar tengah malam? 14045. Anda pesan, kami antar.”), pasar swalayan kecil (Alfamart, Circle-K, dan Indomaret di satu jalan), sampai kepada–ini yang paling dirindukan–usaha fotokopi dan pencetakan dokumen 24 jam Dipati Ukur yang sangat mengerti polah tingkah mahasiswa sebagai laskar ujung tenggat.
5. Tempat tinggal
Tadinya aku mau menulis “rumah” sebagai judul bagian ini. Tapi kuurungkan niat itu mengingat kehidupan tahun-tahun terakhirku di Bandung yang kurang–kalau tak mau disebut “tidak”–menjadikan rumah kontrakanku sebagai tempat tinggal. Tempat tinggalku ketika itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Laboratorium Komputasi Material, tempat bersumbernya sejuta kisah dan kenangan.
Kamar mandi khusus penghuni lab lantai dua yang dibersihkan petugas setiap hari, kursi-kursi Chitose yang dapat dengan mudah disulap menjadi kasur untuk tidur siang maupun malam, layar monitor tambahan milik lab yang mempermudah pekerjaan, bantal empuk yang sengaja kuhijrahkan dari kosan, bangku kerja yang ergonomis sekaligus santai, gantungan handuk beserta alat mandi yang siap sedia digunakan, kabinet berisikan kopi, susu, roti, dan buah, serta makan malam gratis setiap minggu dari Kepala Lab menciptakan akomodasi yang hampir sempurna untuk ditinggali.
Tentu juga para penghuni lab dan kawan-kawan sejurusanku yang tidak habis-habisnya saling mengisi dalam kehidupan sosial maupun akademis membuat aku berat meninggalkan “rumah”-ku ini.
Tapi apa boleh buat. Tuhan menempatkanku di Eindhoven sekarang, di sebuah rumah tinggal. Kali ini aku tidak bisa “minggat” dan tinggal di kampus. Kampus di sini, sesuai dengan bagian “Waktu kerja” di atas, harus tutup pada jam yang ditentukan. Aku pun terpaksa hidup lebih “normal.”
Aku tinggal di sini bersama delapan orang lain dari Indonesia, Cina, Aruba, Iran, Turki, Singapura, dan Nigeria. Kami bersembilan perlu berbagi bersama satu dapur, dua kamar mandi, dan dua toilet. Aku, yang selama ini tinggal sendirian, pun perlu belajar untuk hidup lebih bertanggung jawab sekaligus cerdik untuk menjadikan rumah ini nyaman ditinggali bersama-sama.
Tentunya perbedaan kebiasaan, norma, nilai, keyakinan, dan gaya hidup membuat gesekan rawan terjadi. Tapi ada penelitian yang mengatakan bahwa mahasiswa belajar lebih sedikit mengenai diri mereka sendiri ketika bertemu kawan serumah yang yang ramah dan bersahabat, dan belajar lebih banyak justru dari mereka yang berbeda dan berseberangan ide. Penelitian yang lain juga mengatakan bahwa dampak kawan serumah bisa sangat besar dalam hidup seseorang.
Sehingga, daripada melihat delapan orang ini sebagai ancaman, rasanya lebih menguntungkan kalau melihat mereka sebagai sebuah kesempatan besar. Kesempatan besar untuk bersahabat, mengisi, mendukung, mengasihi, memberi dampak, dan membagi hidup. Toh, kebenaran bahwa kami tinggal seatap bukanlah sebuah kebetulan.
Dilanjutkan di tulisan berikut (yang mungkin butuh waktu agak lama sebelum terbit lantaran kuliah segera dimulai).

Victor, blogmu sangat inspiratif bagi setiap pembaca. God has a mighty plan for the world through u… i’m blessed by your blog
gw suka sama kalimat yang ini:
“kebenaran bahwa kami tinggal seatap bukanlah sebuah kebetulan”
HAHA. hati2 vic, bisa jadi salah satu adalah jodoh lu.
hehe, itulah bedanya jam kerja negara berkembang dengan negara maju vic …
itu maksudnya Kamar mandi khusus penghuni lab lantai “tiga” kali?
Kamar loe bagus Tor, itu dinding-dindingnya emang lengkung atau efek kamera sih?
iya, Do. itu efek kamera…
Vic kamu sudah lulus toch? belajar apa dan mulai kapan di Einhoven? April kemarin saya ke Belanda, khususnya ke Keukenhof liat Tulp.
Pelajari cara pikir orang Barat ya, mungkin perlu buat negara kita tapi jangan pelajari hatinya, Tolong kirim no kontak kamu di Einhoven buat kalau-kalau saya kesana ………….Semoga sukses,
segera dituunggu 5 hal lainnya yah tor hahaha.. Semangat juga untuk perkuliahannya…