Teknologi dan Relasi

“Di mana? Ngapain? Sama siapa?” teriak burung kakak tua bersuara cempreng berulang-ulang dalam suatu iklan rokok. Jelas, iklan itu tidak sedang menunjukkan bahwa dengan merokok, binatang peliharaan kita jadi bisa ngomong dan perhatian sama pemiliknya (lagipula bagaimana caranya burung merokok?!). Iklan itu sedang menggambarkan realitas kehidupan asmara zaman sekarang: seseorang punya kecenderungan untuk mengetahui setiap gerak-gerik pasangannya.

Menariknya, pertanyaan-pertanyaan sejenis ini muncul jika minimal dua keadaan terpenuhi: (1) si wanita dan si pria terpisah jarak tertentu, dan (2) mereka dihubungkan dengan teknologi komunikasi jarak jauh. Pada iklan tadi, telepon adalah contohnya. Kita jarang menemukan pertanyaan di atas dalam komunikasi langsung atau surat.

Tak dapat dipungkiri, bahwa teknologi mengubah cara hidup manusia, termasuk dalam menjalin relasi dengan orang lain. Zaman dahulu, istri hanya bisa menunggu dan menahan rasa kangennya ketika suami sedang mencari nafkah. Sedangkan suami hanya bisa memandangi foto si istri yang ditaruh di bagian dompet yang berlapis plastik transparan sambil membayangkan suara lembut dan senyum manis yang telah membuat dia jatuh hati.

Ini berbeda jauh dengan zaman sekarang. Setitik rasa kangen bisa dengan mudah diobati. Ketika kangen, pertanyaan-pertanyaan sakti di atas—dalam redaksi yang bermacam-macam—meluncur dalam hitungan detik ke ponsel si pacar. Secara ekstrem, ada iklan penyedia layanan ponsel yang menggambarkan sepasang kekasih menjalankan kegiatan masing-masing sambil menelepon seharian. Dan kondisi ini memang terjadi dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda untuk setiap pasangan.

Ironisnya, data statistik menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kemudahan berkomunikasi justru berbanding lurus dengan tingkat perceraian. Ini juga tercermin pada industri musik Indonesia. Lagu-lagu populer sekarang adalah “Cari Pacar Lagi” (ST12) atau “Lelaki Buaya Darat” (Ratu). Tema perselingkuhan dan putus-nyambung menggantikan tema-tema kesetiaan dan kesabaran yang ada dalam “Jangan Pernah Kau Ragukan” (Meriam Bellina) dan “Kucari Jalan Terbaik” (Pance Pondaag).

Meski memudahkan komunikasi, teknologi ternyata belum berhasil memuluskan relasi. Penyebab utamanya adalah keterbatasan teknologi dalam menghadirkan keutuhan seseorang ke hadapan lawan bicaranya. Telepon hanya mampu menghadirkan ekspresi verbal dengan intonasi sebagai bingkai emosi. Pesan singkat atau pesan instan—bentuk telekomunikasi yang paling murah dan populer—lebih parah karena hanya mampu menghadirkan pernyataan verbal ditambah emosi buatan yang mudah direkayasa: emotikon. Secanggih-canggihnya panggilan video pun belum belum mampu sepenuhnya menghadirkan persepsi fisis yang disampaikan melalui bahasa tubuh. Padahal 60-70% maksud seseorang ada dalam bahasa nonverbal.

Melihat hal ini, akan sangat berbahaya jika PDKT atau relasi dalam pacaran cuma didominasi oleh satu jenis media komunikasi. Kedekatan yang muncul di dalamnya adalah kedekatan sebagian (kecil), yang dapat juga dilihat sebagai kedekatan palsu. Tidak jarang ada orang yang sudah begitu akrab dan mesra melalui pesan singkat, tetapi begitu ketemu langsung mengeluarkan jurus diam seribu bahasa. Ini terjadi karena selama mereka sms-an, hanya satu indera yang terlibat. Ketika mereka bertemu, barulah kelima indera bekerja bersama memersepsikan kehadiran sang lawan jenis. Tak heran, mereka merasa jauh dan asing.

Ini juga yang membuat beberapa laki-laki memilih menyatakan perasaannya kepada wanita idamannya dengan pesan singkat atau telepon. Kebanyakan laki-laki punya satu ketakutan yang sama dalam hal ini: penolakan. Dan jelas, dibanding satu atau dua indera yang terlibat, penolakan yang dipersepsi oleh semua indera akan terasa lebih menyakitkan (namun ada kabar baik: keberanian untuk menempuh risiko ini konon dihargai oleh wanita).

Nantinya, suami-istri akan tinggal serumah. Permasalahan yang muncul adalah permasalahan nyata yang bisa dilihat, didengar, diraba, dicium, dan dijilat. Sebuah malapetaka rumah tangga terjadi jika setelah menikah kita belum terbiasa memersepsikan maksud pasangan kita dengan utuh. Jadi, di tengah keterbatasan teknologi yang ada sekarang, kita perlu pintar-pintar memvariasikan bentuk komunikasi kita. Temu muka sebisa mungkin perlu diberi prioritas karena inilah bentuk komunikasi terbaik.

Teknologi memang memudahkan, tapi janganlah tergoda untuk menihilkan usaha. Lagipula bukankah jalan yang sukar dan berliku, asalkan dilalui bersama, justru memperindah mahligai cinta berdua?

4 comments to Teknologi dan Relasi

  1. myomio mengatakan:

    makasih itoy..*tertohok dng sangat telak.. :D

  2. Ivan Pradibta mengatakan:

    Every time I read your blog, I’m feeling like crying

    These things you write in your blog recall again all my memories about you, us and all of our friends bro…

    Somehow I can see the quality every time I see you and what ever come out of you bro..
    Inside and outside I’m really happy have such a great friend like you…

    Just pray for me that one day I can found what path I should take. Just like you and all of our friend know clearly what path they should take…

    Thanks for being my friend…

    • Victor Samuel mengatakan:

      Ytk. Ivan,
      Menulis, bagiku, bukan sekedar melontarkan ide-ide yang ada di kepala, melainkan juga proses refleksi dan introspeksi hati. Inilah tujuan awal aku menulis blog ini. Munafik namanya kalau tulisanku bertujuan mengubah orang namun tidak bersumber dari hidupku yang diubahkan terlebih dahulu oleh Dia. Maka, aku bersyukur kalau memang tulisanku bisa memberkatimu. Berkat komentarmu, aku jadi semangat lagi untuk terus menulis, meskipun berbagai rintangan dari dalam maupun dari luar, tidak pernah menyerah menghentikanku.

      Memang tidak mudah menyadari panggilan Allah untuk kita, Van. Aku pun sampai sekarang tidak pernah yakin, meskipun sudah melakukan analisis sana-sini dengan teknik ini-itu. Justru makin ke sini, kebingungan semakin menunjukkan taringnya. Tapi bukankah itu lumrah? Memang kita wajib menjalankan panggilan spesifik yang Tuhan berikan kepada kita, namun bukankah Allah yang memanggil kita juga adalah Allah yang Misterius? Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk ingin tahu semuanya. Padahal, justru di dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian itulah, Tuhan menganugrahkan kepada kita iman.

      Aku sarankan kau lahap, kunyah, dan nikmati goresan-goresan Os Guinness dalam bukunya The Call. Dapat didapatkan dengan mudah di Gramedia atau toko buku rohani kesayangan Anda. Itu baik sekali untuk kita-kita yang masih terombang-ambing ini Van. hehe.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s