<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>utuh.</title>
	<atom:link href="http://vicsam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vicsam.wordpress.com</link>
	<description>menulis yang dihidupi, menghidupi yang ditulis</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 12:01:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='vicsam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>utuh.</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://vicsam.wordpress.com/osd.xml" title="utuh." />
	<atom:link rel='hub' href='http://vicsam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gagalnya Kaum Lahir Baru</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2012/01/23/gagalnyakaumlahirbaru/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2012/01/23/gagalnyakaumlahirbaru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 11:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Berwisata di Eropa belumlah lengkap jika tidak berkunjung ke gereja-gerejanya. Kemegahan dan transendensi arsitektur Gotik yang berpadu dengan ukiran unik maupun ornamen antik di sekujur interiornya membuat banyak orang, termasuk sebagian penganut agama lain atau ateis sekalipun, menarik napas dalam-dalam penuh kagum. Jutaan orang mengunjungi gereja-gereja ini setiap tahunnya. Bahkan di beberapa gereja yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=531&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Berwisata di Eropa belumlah lengkap jika tidak berkunjung ke gereja-gerejanya. Kemegahan dan transendensi arsitektur Gotik yang berpadu dengan ukiran unik maupun ornamen antik di sekujur interiornya membuat banyak orang, termasuk sebagian penganut agama lain atau ateis sekalipun, menarik napas dalam-dalam penuh kagum. Jutaan orang mengunjungi gereja-gereja ini setiap tahunnya. Bahkan di beberapa gereja yang paling terkenal seperti Sagrada Familia, kita mesti antre ratusan meter untuk menjelajahi bukti ekspresi hormat Antoni Gaudi kepada Allah yang mulia.</p>
<p style="text-align:left;" align="center">
<p><span id="more-531"></span><br />
Namun, sadarkah kita ada yang aneh? Gedung gereja memang dikunjungi <em>banyak </em>manusia, tapi yang ingin dinikmati adalah bangunan<em>, </em>bukan Tuhan. Padahal Gaudi, atau siapa pun arsitek gereja saat itu, menguntukkan karyanya menjadi wadah bagi kaum lahir baru—pengaku dan penerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat—untuk beribadah; bukan sekedar menjadi museum indah!</p>
<p>Bagaimana dengan kekristenan Indonesia? Melihat kebaktian-kebaktian kita yang masih riuh ramai, apakah kita lebih baik dari kekristenan Eropa? Sayangnya, fakta di kantong-kantong Kristen—daerah-daerah yang paling banyak ditinggali oleh kaum lahir baru—tidak berkata demikian.</p>
<p>Tengoklah Manado. Belum ke Manado rasanya jika belum menikmati 3B—Bunaken, <em>Boulevard</em>, dan Bubur Manado. Namun, yang terakhir ini sering dipelesetkan menjadi “Bibir Manado”—sebutan bagi pekerja seks komersial asal kota tempat berdirinya patung Yesus tertinggi kedua di dunia ini. Dalam dunia prostitusi, nona-nona Manado termasuk yang paling digemari. Bahkan persebarannya sudah sampai tingkat mancanegara.<sup>1</sup>Ironis, banyaknya gereja di Kota Seribu Gereja ini berbanding lurus dengan banyaknya pekerja seks komersial!</p>
<p>Sekarang mari alihkan pandangan ke Manokwari. Sebagai gerbang masuknya arus lahir baru di Papua, Manokwari memiliki ikatan emosi yang kuat dengan kekristenan. Saat ini, tokoh-tokoh masyarakat setempat sedang terus mengusahakan “Perda Manokwari Kota Injil.” Terdengar sangat Kristiani, bukan?</p>
<p>Sayangnya, menurut seorang dosen yang telah mengabdi di sana selama lima tahun, banyak kaum lahir baru gagal meradiasikan kelahiran barunya itu di masyarakat. “Di kantor-kantor, banyak orang Kristen yang punya peranan dan jabatan strategis sehingga dapat mempengaruhi banyak orang. Namun, <em>sangat sulit</em> mendapatkan anak Tuhan yang berani membayar harga demi mengikuti Kristus. Kebanyakan mengikut arus. Kalau orang lain malas, mereka akan ikut malas. Jika orang lain korupsi, mereka akan ikut-ikutan korupsi.”</p>
<p>Satu fakta memilukan lagi: dari lima provinsi termiskin Indonesia, empat di antaranya berpenduduk mayoritas Kristen.<sup>2 </sup>Padahal, semuanya memiliki sumber daya alam yang besar. Di manakah kaum lahir baru yang duduk di pemerintahan? Jika memang mereka mengetahui nilai Kristen: kerja keras dan jujur demi Allah sekaligus kemashalatan bersama, mengapa mereka gagal mengusahakan kesejahteraan kota dan malahan membiarkan rakyat menderita?</p>
<p>Nampaknya gereja-gereja di Indonesia mulai menunjukkan gejala penyakit kronis yang sudah didera lama oleh gereja-gereja Eropa: kekristenan simbol. Celakanya, simbol-simbol itu masih kita peluk erat-erat tanpa peduli bahwa tanggung jawab kita berat. Kita rajin ke gereja tapi hidup jauh dari nilai-nilai gereja. Kita berkalung salib tapi ogah pikul salib. Bukankah hidup munafik seperti ini lebih busuk dari orang-orang Eropa yang terang-terangan meninggalkan gereja?</p>
<p>Solusinya ada di gereja. Gereja perlu mendidik kaum lahir baru sehingga <em>shalom </em>menjadi nyata dalam hidup bersama dan bukan hanya ucapan pengganti “selamat pagi.” Lahir baru itu utuh: bukan hanya dalam relasi dengan Allah secara vertikal, melainkan juga dalam kehidupan sosial.  Gereja perlu berpikir dan berusaha keras untuk menumbuhkan iman jemaat sekaligus mendorong mereka untuk membersihkan sektor-sektor kehidupan masyarakat yang masih kotor.</p>
<p>Sebagai kesatuan yang am, ada panggilan bagi gereja-gereja lokal (termasuk lembaga-lembaga paragereja) yang sudah lebih bertumbuh secara rohani dan intelektual untuk mendukung proses ini di daerah-daerah Kristen yang tertinggal. Biarlah gereja besar tidak hanya sibuk memperbesar diri sendiri, tetapi juga menopang gereja-gereja kecil untuk bisa berdiri.</p>
<p>Akhir kata, jadikanlah tahun baru ini menjadi awal komitmen kita untuk berdoa dan bekerja agar api lahir baru kembali berkobar di kantong-kantong Kristen Indonesia. Bukankah salah satunya kampung halaman kita?</p>
<p><strong>Catatan</strong></p>
<p><sup>1</sup> “Bibir Manado sampai Mancanegara” dalam situs <em>KaltimPost.co.id </em>&lt;<a href="http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&amp;id=22141">http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&amp;id=22141</a>&gt;.</p>
<p><sup>2</sup> Keempat provinsi yang dimaksud adalah: Papua, Papua Barat, NTT, dan Maluku. “Inilah 5 Provinsi Termiskin di Indonesia” dalam <em>Inilah.com </em>&lt;<a href="http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1463672/inilah-5-provinsi-termiskin-di-indonesia">http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1463672/inilah-5-provinsi-termiskin-di-indonesia</a>&gt;.</p>
<p><em>Tulisan ini dilansir di <a href="http://komunitasubi.wordpress.com/2012/01/17/gagalnya-kaum-lahir-baru/">Forum Komunitas Ubi</a> </em>edisi Januari 2011.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/531/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/531/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=531&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2012/01/23/gagalnyakaumlahirbaru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teknologi dan Relasi</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/12/22/teknologi-dan-relasi/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/12/22/teknologi-dan-relasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 23:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Di mana? Ngapain? Sama siapa?&#8221; teriak burung kakak tua bersuara cempreng berulang-ulang dalam suatu iklan rokok. Jelas, iklan itu tidak sedang menunjukkan bahwa dengan merokok, binatang peliharaan kita jadi bisa ngomong dan perhatian sama pemiliknya (lagipula bagaimana caranya burung merokok?!). Iklan itu sedang menggambarkan realitas kehidupan asmara zaman sekarang: seseorang punya kecenderungan untuk mengetahui setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=520&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://9gag.com/gag/130732"><img src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/12/130732_700b.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" title="Skype" width="210" height="300" class="alignright size-medium wp-image-523" /></a>&#8220;Di mana? Ngapain? Sama siapa?&#8221; teriak burung kakak tua bersuara cempreng berulang-ulang dalam suatu iklan rokok.  Jelas, iklan itu tidak sedang menunjukkan bahwa dengan merokok, binatang peliharaan kita jadi bisa ngomong dan perhatian sama pemiliknya (lagipula bagaimana caranya burung merokok?!). Iklan itu sedang menggambarkan realitas kehidupan asmara zaman sekarang: seseorang punya kecenderungan untuk mengetahui setiap gerak-gerik pasangannya.</p>
<p><span id="more-520"></span> </p>
<p>Menariknya, pertanyaan-pertanyaan sejenis ini muncul jika minimal dua keadaan terpenuhi: (1) si wanita dan si pria terpisah jarak tertentu, dan (2) mereka dihubungkan dengan teknologi komunikasi jarak jauh. Pada iklan tadi, telepon adalah contohnya. Kita jarang menemukan pertanyaan di atas dalam komunikasi langsung atau surat.</p>
<p>Tak dapat dipungkiri, bahwa teknologi mengubah cara hidup manusia, termasuk dalam menjalin relasi dengan orang lain. Zaman dahulu, istri hanya bisa menunggu dan menahan rasa kangennya ketika suami sedang mencari nafkah. Sedangkan suami hanya bisa memandangi foto si istri yang ditaruh di bagian dompet yang berlapis plastik transparan sambil membayangkan suara lembut dan senyum manis yang telah membuat dia jatuh hati. </p>
<p>Ini berbeda jauh dengan zaman sekarang. Setitik rasa kangen bisa dengan mudah diobati. Ketika kangen, pertanyaan-pertanyaan sakti di atas—dalam redaksi yang bermacam-macam—meluncur dalam hitungan detik ke ponsel si pacar. Secara ekstrem, ada iklan penyedia layanan ponsel yang menggambarkan sepasang kekasih menjalankan kegiatan masing-masing sambil menelepon seharian. Dan kondisi ini memang terjadi dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda untuk setiap pasangan.</p>
<p>Ironisnya, data statistik menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kemudahan berkomunikasi justru berbanding lurus dengan tingkat perceraian. Ini juga tercermin pada industri musik Indonesia. Lagu-lagu populer sekarang adalah &#8220;Cari Pacar Lagi&#8221; (ST12) atau &#8220;Lelaki Buaya Darat&#8221; (Ratu). Tema perselingkuhan dan putus-nyambung menggantikan tema-tema kesetiaan dan kesabaran yang ada dalam &#8220;Jangan Pernah Kau Ragukan&#8221; (Meriam Bellina) dan &#8220;Kucari Jalan Terbaik&#8221; (Pance Pondaag).</p>
<p>Meski memudahkan komunikasi, teknologi ternyata belum berhasil memuluskan relasi. Penyebab utamanya adalah keterbatasan teknologi dalam menghadirkan keutuhan seseorang ke hadapan lawan bicaranya. Telepon hanya mampu menghadirkan ekspresi verbal dengan intonasi sebagai bingkai emosi. Pesan singkat atau pesan instan—bentuk telekomunikasi yang paling murah dan populer—lebih parah karena hanya mampu menghadirkan pernyataan verbal ditambah emosi buatan yang mudah direkayasa: emotikon. Secanggih-canggihnya panggilan video pun belum belum mampu sepenuhnya menghadirkan persepsi fisis yang disampaikan melalui bahasa tubuh. Padahal 60-70% maksud seseorang ada dalam bahasa nonverbal.</p>
<p>Melihat hal ini, akan sangat berbahaya jika PDKT atau relasi dalam pacaran cuma didominasi oleh satu jenis media komunikasi. Kedekatan yang muncul di dalamnya adalah kedekatan sebagian (kecil), yang dapat juga dilihat sebagai kedekatan palsu. Tidak jarang ada orang yang sudah begitu akrab dan mesra melalui pesan singkat, tetapi begitu ketemu langsung mengeluarkan jurus diam seribu bahasa. Ini terjadi karena selama mereka sms-an, hanya satu indera yang terlibat. Ketika mereka bertemu, barulah kelima indera bekerja bersama memersepsikan kehadiran sang lawan jenis. Tak heran, mereka merasa jauh dan asing.</p>
<p>Ini juga yang membuat beberapa laki-laki memilih menyatakan perasaannya kepada wanita idamannya dengan pesan singkat atau telepon. Kebanyakan laki-laki punya satu ketakutan yang sama dalam hal ini: penolakan. Dan jelas, dibanding satu atau dua indera yang terlibat, penolakan yang dipersepsi oleh semua indera akan terasa lebih menyakitkan (namun ada kabar baik: keberanian untuk menempuh risiko ini konon dihargai oleh wanita).</p>
<p>Nantinya, suami-istri akan tinggal serumah. Permasalahan yang muncul adalah permasalahan nyata yang bisa dilihat, didengar, diraba, dicium, dan dijilat. Sebuah malapetaka rumah tangga terjadi jika setelah menikah kita belum terbiasa memersepsikan maksud pasangan kita dengan utuh. Jadi, di tengah keterbatasan teknologi yang ada sekarang, kita perlu pintar-pintar memvariasikan bentuk komunikasi kita. Temu muka sebisa mungkin perlu diberi prioritas karena inilah bentuk komunikasi terbaik.</p>
<p>Teknologi memang memudahkan, tapi janganlah tergoda untuk menihilkan usaha. Lagipula bukankah jalan yang sukar dan berliku, asalkan dilalui bersama, justru memperindah mahligai cinta berdua?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/520/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/520/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=520&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/12/22/teknologi-dan-relasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/12/130732_700b.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">Skype</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah gagal di physical transport phenomena.</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/11/04/congratulations/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/11/04/congratulations/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 21:34:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini datang surel dari dosen Technology and Sustainability, tentang nilai akhir. Dear all, I just read your report and I am impressed: a good deal of work, some nice additionals (like the sensitivity analysis with inteviewing relevant Indonesian students; detailing out the system considered in the MCA) and proper referencing to literature. I grade [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=507&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini datang surel dari dosen <em>Technology and Sustainability</em>, tentang nilai akhir.</p>
<blockquote><p>Dear all,<br />
I just read your report and I am impressed: a good deal of work, some nice additionals (like the sensitivity analysis with inteviewing relevant Indonesian students; detailing out the system considered in the MCA) and proper referencing to literature.<br />
I grade it with a 10!! Congratulations.</p></blockquote>
<p><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/11/freddie_mercury.jpg"><img src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/11/freddie_mercury.jpg?w=640" alt="" title="Freddie_Mercury"   class="aligncenter size-full wp-image-508" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/507/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/507/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=507&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/11/04/congratulations/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/11/freddie_mercury.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Freddie_Mercury</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Energi untuk NKRI</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/28/energiuntuknkr/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/28/energiuntuknkr/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 03:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Kita memang beruntung. Lihatlah sekeliling dan kita mudah mendapati bahwa hidup kita sangat terbantu oleh listrik. Berkat listrik, ribuan mobil di jalan melaju tertib diatur lampu merah-kuning-hijau yang menyala-mati dengan cerdas. Oleh listrik, makanan di dapur sisa semalam dalam hitungan detik dapat menjadi hangat dan nikmat kembali dengan oven gelombang mikro. Dibantu listrik, kita dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=497&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita memang beruntung. Lihatlah sekeliling dan kita mudah mendapati bahwa hidup kita sangat terbantu oleh listrik.</p>
<p>Berkat listrik, ribuan mobil di jalan melaju tertib diatur lampu merah-kuning-hijau yang menyala-mati dengan cerdas. Oleh listrik, makanan di dapur sisa semalam dalam hitungan detik dapat menjadi hangat dan nikmat kembali dengan oven gelombang mikro. Dibantu listrik, kita dapat mengunduh makalah internasional dengan mudah dan cepat untuk melengkapi dasar teori skripsi yang sudah dihantui tenggat. Dengan listrik pula, pendingin udara dapat menyulap atmosfer gerah Jakarta dalam ruang kantor kita menjadi sejuk bak musim semi di Amsterdam. <em>Wuah!</em></p>
<p><span id="more-497"></span><br />
Sayang sejuta sayang, segala kemudahan tadi bukan milik semua orang Indonesia. Rasio elektrifikasi—perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik terhadap jumlah keseluruhan penduduk dalam suatu wilayah atau negara—Indonesia baru 66%.  Artinya, masih ada lebih dari <em>tujuh puluh juta</em> rakyat Indonesia belum berlistrik!</p>
<p>Di jajaran ASEAN, kita kalah dari Singapura (100%), Brunei Darussalam, dan Malaysia (masing-masing di atas 80%)<sup>1</sup>. Bahkan di Pulau Jawa, pusat pembangunan Indonesia, ada wilayah yang masih gulita.<sup>2</sup> Dan kita belum bicara tentang Indonesia Timur!<sup>3</sup><br />
<sup> </sup><br />
Lihatlah Kampung Ulen di Kabupaten Sergai, Sumut. Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya 66 tahun silam, 26 kepala keluarga di sana sampai sekarang belum merdeka dari kondisi nirlistrik. Sementara kita adem ayem meninggalkan Sony Bravia LED 55 inci kita tetap menyala, mereka harus membeli bensin dua liter setiap hari atau isi ulang aki tiga hari sekali demi menonton tim sepak bola kesayangan mereka melalui kotak 14inci bergambar hitam-putih. Itu pun hanya lepas magrib sampai tengah malam. Mereka “sudah lelah memohon melalui Kepala Desa maupun PLN,” tapi sampai sekarang hasilnya nihil.<sup>4</sup><br />
<sup> </sup><br />
Tidaklah salah jika kita berkilah, “Bung, Malaysia, Singapura adalah negara kecil; Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan tidak kurang 17.000 pulau!”  Memang, kondisi geografis ini memastikan kesulitan besar bagi penyebaran listrik ke seluruh pelosok. Pemerintah dan PLN tidak bisa <em>terlalu</em> disalahkan atas kesenjangan listrik yang terjadi.</p>
<p>Namun, Indonesia adalah Indonesia: dari Miangas sampai Rote, dari Sabang sampai Merauke. Kesatuannya adalah kemutlakan, sebagaimana tertuang dalam roh Sumpah Pemuda yang dikumandangkan para pendahulu bangsa kita. Bagi mereka, kesatuan bangsa ini adalah senjata kunci untuk menggocoh penjajah. Pun bagi kita, kesatuan tetaplah modal utama untuk mempertahankan harkat bangsa dalam kencangnya arus kesejagatan (“globalisasi”).<br />
Untuk itu, pembangunan <em>harus</em> dilakukan ke <em>segala</em> penjuru. Tentu tidak semua titik harus dipukul rata. Ada daerah yang perlu <em>penanaman</em> (“investasi”) lebih besar dibanding daerah lain, tetapi tidak boleh ada <em>pembiaran</em>! Pembiaran hanya membangkitkan arus pemisahan diri. Tanyakan apa keluhan Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka, dan Republik Maluku Selatan. Hampir pasti<em> pembiaran</em> adalah<em> </em>salah satu jawaban mereka.</p>
<p>Perlu upaya <em>bersama</em> untuk melawan pembiaran dalam pemasokan listrik. <em>Pertama</em>, pemerintah segera membereskan proyek 10.000 megawatt tahap I yang tertunda. Keterlambatan proyek ini menyebabkan setidaknya dua hal: tingginya subsidi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi dari BBM dan terhambatnya pembangunan infrastruktur.</p>
<p><em>Kedua,</em> peran swasta didorong dengan peraturan yang tidak menjelimet dan insentif yang menarik. Sebenarnya, ini sudah mulai terlihat dalam Permen ESDM no.31 2009: PLN wajib membeli listrik dari pembangkit listrik energi terbarukan yang dibangun swasta. Harganya pun baik: listrik yang dibangkitkan di wilayah tertinggal dibayar lebih mahal. Namun, pelaksanaannya perlu diawasi dengan ketat agar bersih dari “amplop.” Ini sekaligus akan membangkitkan wirausaha-wirausaha energi yang, meskipun hanya mampu membangun pembangkit skala kecil, dapat menerangi desa-desa terpencil yang belum dilayani PLN.</p>
<p><em>Ketiga,</em> perlu digalakkan kesinambungan penelitian dalam bidang energi dan penerapannya. Perlu ada rencana besar penelitian dalam laboratorium-laboratorium universitas dan lembaga riset negara, yang dikolaborasikan dengan industri.</p>
<p>Ini semua perlu dilakukan tidak <em>sekadar</em> untuk membuat perekonomian ataupun teknologi energi Indonesia unggul dari negara lain. Ada alasan yang jauh lebih penting dan mendasar: NKRI harga mati. <em>Salam Sumpah Pemuda.</em></p>
<p><em>Victor Samuel adalah seorang mahasiswa pascasarjana jurusan Energi Berkelanjutan yang bermukim di Eindhoven.</em></p>
<p><strong>Catatan</strong><br />
<sup>1</sup> Dihar Dakir dan Nurjoni. “PLN Genjot Elektrifikasi Indonesia Timur” dalam <em>Bataviase.co.id. </em><br />
&lt;<a href="http://bataviase.co.id/node/569071">http://bataviase.co.id/node/569071</a>&gt;.<br />
<sup>2</sup> “Tak Menikmati Listrik di Daerah PLTA” dalam <em>Kompas.com.</em><br />
&lt;<a href="http://regional.kompas.com/read/2011/03/25/16095515/Tak.Menikmati.Listrik.di.Daerah.PLTA">http://regional.kompas.com/read/2011/03/25/16095515/Tak.Menikmati.Listrik.di.Daerah.PLTA</a>&gt;.<br />
<sup>3</sup> Secara statistik, Indonesia Timur memiliki rasio elektrifikasi terendah. “5 Provinsi Masih Memiliki Rasio Elektrifikasi Terendah” dalam <em>Detik.com.</em><br />
&lt;<a href="http://us.finance.detik.com/read/2009/08/06/102213/1178357/4/5-provinsi-masih-memiliki-rasio-elektrifikasi-rendah">http://us.finance.detik.com/read/2009/08/06/102213/1178357/4/5-provinsi-masih-memiliki-rasio-elektrifikasi-rendah</a>&gt;.<br />
<sup>4</sup> “Belum Pernah Menikmati Listrik” dalam <em>HarianSumutPos.com.</em><br />
&lt;<a href="http://www.hariansumutpos.com/2011/06/8846/belum-pernah-menikmati-listrik.htm">http://www.hariansumutpos.com/2011/06/8846/belum-pernah-menikmati-listrik.htm</a>&gt;.</p>
<p><em>Tulisan ini dilansir di <a href="http://komunitasubi.wordpress.com/2011/10/17/energi-untuk-nkri/">Forum Komunitas UBI</a> edisi Oktober 2011.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=497&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/28/energiuntuknkr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amin.</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/23/amin/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/23/amin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 20:02:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[Gw selalu punya keyakinan kalo suatu saat nanti lo pasti akan jadi orang &#8220;besar&#8221; yang akan berkontribusi banyak buat bangsa ini. Jadi, saat lo capek,takut dan jenuh belajar, inget ada gw disini yang selalu mendoakan lo dan yakin kalo lo pasti bisa melalui semua perjuangan ini karena seorang Victor Samuel yang gw kenal adalah orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=490&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Gw selalu punya keyakinan kalo suatu saat nanti lo pasti akan jadi orang &#8220;besar&#8221; yang akan berkontribusi banyak buat bangsa ini. Jadi, saat lo capek,takut dan jenuh belajar, inget ada gw disini yang selalu mendoakan lo dan yakin kalo lo pasti bisa melalui semua perjuangan ini karena seorang Victor Samuel yang gw kenal adalah orang yang gigih, pantang menyerah dan selalu bersemangat dalam mencapai mimpi-mimpinya.</p></blockquote>
<p>&#8211;AJ, seorang kawan yang masih berjuang di Bandung.<br />
<em>Tetaplah berjuang. Teriring doaku.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/490/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/490/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=490&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/10/23/amin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga minggu pertama di Eindhoven: daftar sepuluh besar (bagian III)</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/05/sepuluh-besar-eindhoven-3/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/05/sepuluh-besar-eindhoven-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 22:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[einhoven]]></category>
		<category><![CDATA[kawan serumah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[tempat tinggal]]></category>
		<category><![CDATA[toko]]></category>
		<category><![CDATA[waktu kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[6. Waktu kerja Aku, yang pernah lama tinggal di Jakarta dan Bandung, cukup terbelalak dengan waktu kerja orang sini. Secara umum, toko-toko dan perkantoran buka sekitar pukul 10:00. Yang mengherankan adalah waktu tutupnya: pukul 18:00. Pukul enam sore! Tentu bagi kawan-kawan &#8220;anak gaul&#8221; Indonesia, pukul 18:00 itu serasa masih pagi. &#8220;Bencong aja baru dandan,&#8221; ujar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=481&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p align="left"><strong>6. Waktu kerja</strong></p>
<p align="left">Aku, yang pernah lama tinggal di Jakarta dan Bandung, cukup terbelalak dengan waktu kerja orang sini. Secara umum, toko-toko dan perkantoran buka sekitar pukul 10:00. Yang mengherankan adalah waktu tutupnya: pukul 18:00. Pukul <em>enam</em> sore!</p>
<p><span id="more-481"></span></p>
<p align="left">Tentu bagi kawan-kawan &#8220;anak gaul&#8221; Indonesia, pukul 18:00 itu serasa masih pagi. &#8220;Bencong <em>aja</em> baru dandan,&#8221; ujar Tobing, kawanku.</p>
<p align="left">Lebih-lebih lagi saat hari Minggu. Di hari ketika mal-mal besar Jakarta ramai dikunjungi manusia segala usia, nyaris semua gerai Eindhoven&#8211;sebagaimana kota-kota lain di Eropa&#8211;menutup gerbangnya rapat-rapat sepanjang hari. Kota yang berpenduduk dua juta jiwa ini pun tersenyap. Bahkan, di jalan besar bisa terdengar keras suara keheningan diselingi gemerisik daun yang dipintasi angin.</p>
<p align="left">Usut punya usut, pola waktu kerja &#8220;pulang cepat&#8221; ini sengaja ditetapkan pemerintah supaya para suami jangan terlalu lama berpisah dengan istri yang seharian menunggu di rumah, supaya anak tidak kehilangan masa kecil bersama orang tuanya, dan supaya para magang masih bisa <em>borrel</em> (nongkrong sambil minum-minum di bar) bersama kawan dan pacarnya.</p>
<p align="left">Sedangkan, libur di hari Minggu sepertinya terkait dengan konsep hari perhentian (hari Sabat) dalam tradisi Kristen. Pada Abad Pertengahan, kebudayaan dan pendidikan bangsa-bangsa Eropa terpusat di Gereja Katolik Roma. Dan bagi Gereja, hari Minggu adalah hari untuk beristirahat secara rohani maupun jasmani. Pun, hari Sabtu orang-orang libur karena di dalam tradisi Kristen, hari sebelum Sabat, yakni Sabtu, adalah &#8220;hari persiapan&#8221; (Luk 23:54) untuk menyambut datangnya hari Sabat.</p>
<p align="left">Sehingga, meskipun sebagian besar penduduk di sini sudah tidak lagi ke gereja (kecuali saat dibaptis, menikah, dan dikubur) dan esensi Sabat pun sudah kehilangan aspek rohaninya (&#8220;hari persiapan&#8221; malah menikmati <a href="http://vicsam.wordpress.com/2011/08/28/tiga-minggu-pertama-di-eindhoven-daftar-sepuluh-besar/">bar dan bir</a>), tradisi ini masih kuat mengakar dalam kehidupan keseharian orang Eropa.</p>
<p align="left">Di satu sisi, aku setuju. Bagaimanapun manusia butuh istirahat. tidak terkecuali mahasiswa. Meskipun mungkin di antara pembaca ada yang sangat suka belajar sampai lupa waktu libur, mengistirahatkan tubuh dan jiwa adalah hal yang asasi sebagai manusia. Itulah mengapa istilah <em>workaholic</em>  tidak dianggap masyarakat umum sebagai hal positif.</p>
<p align="left">Tapi di sisi lain, aku merasa kehilangan &#8220;pelayanan&#8221; di Bandung yang menyediakan segala sesuatu sampai larut malam. Mulai dari sistem transportasi umum (meski beberapa wilayah jenisnya bergantian antara angkot dan ojeg),  makanan (&#8220;Lapar tengah malam? 14045. Anda pesan, kami antar.&#8221;), pasar swalayan kecil (Alfamart, Circle-K, dan Indomaret di satu jalan), sampai kepada&#8211;ini yang paling dirindukan&#8211;usaha fotokopi dan pencetakan dokumen 24 jam Dipati Ukur yang sangat mengerti polah tingkah mahasiswa sebagai laskar ujung tenggat.</p>
<p align="left"><strong>5.  Tempat tinggal</strong></p>
<p align="left">Tadinya aku mau menulis &#8220;rumah&#8221; sebagai judul bagian ini. Tapi kuurungkan niat itu mengingat kehidupan tahun-tahun terakhirku di Bandung yang<em> kurang</em>&#8211;kalau tak mau disebut &#8220;tidak&#8221;&#8211;menjadikan rumah kontrakanku sebagai tempat tinggal. Tempat tinggalku ketika itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Laboratorium Komputasi Material, tempat bersumbernya sejuta kisah dan kenangan.</p>
<p align="left">Kamar mandi khusus penghuni lab lantai dua yang dibersihkan petugas setiap hari, kursi-kursi Chitose yang dapat dengan mudah disulap menjadi kasur untuk tidur siang maupun malam, layar monitor tambahan milik lab yang mempermudah pekerjaan, bantal empuk yang sengaja kuhijrahkan dari kosan, bangku kerja yang ergonomis sekaligus santai, gantungan handuk beserta alat mandi yang siap sedia digunakan, kabinet berisikan kopi, susu, roti, dan buah, serta makan malam gratis setiap minggu dari Kepala Lab  menciptakan akomodasi yang hampir sempurna untuk ditinggali.</p>
<p align="left">Tentu juga para penghuni lab dan kawan-kawan sejurusanku yang tidak habis-habisnya saling mengisi dalam kehidupan sosial maupun akademis membuat aku berat meninggalkan &#8220;rumah&#8221;-ku ini.</p>
<p align="left">Tapi apa boleh buat. Tuhan menempatkanku di Eindhoven sekarang, di sebuah rumah tinggal. Kali ini aku tidak bisa &#8220;minggat&#8221; dan tinggal di kampus. Kampus di sini, sesuai dengan bagian &#8220;Waktu kerja&#8221; di atas, harus tutup pada jam yang ditentukan. Aku pun terpaksa hidup lebih &#8220;normal.&#8221;</p>
<div id="attachment_482" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1034px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01315.jpg"><img class="size-large wp-image-482" title="Bilik mengeram" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01315.jpg?w=1024&#038;h=400" alt="" width="1024" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Bilik mengeram</p></div>
<p align="left">Aku tinggal di sini bersama delapan orang lain dari Indonesia, Cina, Aruba, Iran, Turki, Singapura, dan Nigeria. Kami bersembilan perlu berbagi bersama satu dapur, dua kamar mandi, dan dua toilet. Aku, yang selama ini tinggal sendirian, pun perlu belajar untuk hidup lebih bertanggung jawab sekaligus cerdik untuk menjadikan rumah ini nyaman ditinggali bersama-sama.</p>
<p align="left">Tentunya perbedaan kebiasaan, norma, nilai, keyakinan, dan gaya hidup membuat gesekan rawan terjadi. Tapi ada <a href="http://www.fitchburgstate.edu/housing/rmrelationship.cfm">penelitian</a> yang mengatakan bahwa mahasiswa belajar lebih sedikit mengenai diri mereka sendiri ketika bertemu kawan serumah yang yang ramah dan bersahabat, dan belajar lebih banyak justru dari mereka yang berbeda dan berseberangan ide. <a href="http://www.nytimes.com/2011/08/29/opinion/when-roommates-were-random.html">Penelitian yang lain</a> juga mengatakan bahwa dampak kawan serumah bisa sangat besar dalam hidup seseorang.</p>
<p align="left">Sehingga, daripada melihat delapan orang ini sebagai ancaman, rasanya lebih menguntungkan kalau melihat mereka sebagai sebuah kesempatan besar. Kesempatan besar untuk bersahabat, mengisi, mendukung, mengasihi, memberi dampak, dan membagi hidup. <em>Toh,</em> kebenaran bahwa kami tinggal seatap bukanlah sebuah kebetulan.</p>
<p align="left"><em>Dilanjutkan di tulisan berikut (yang mungkin butuh waktu agak lama sebelum terbit lantaran kuliah segera dimulai).<br />
</em></p>
<p align="left">
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/481/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/481/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=481&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/05/sepuluh-besar-eindhoven-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01315.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">Bilik mengeram</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manusia boleh berencana&#8230;.</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/03/manusia-boleh-berencana/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/03/manusia-boleh-berencana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 18:30:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[eindhoven]]></category>
		<category><![CDATA[jadwal]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[TU/e]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=455&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_477" class="wp-caption aligncenter" style="width: 640px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/jadwal.png"><img class="size-full wp-image-477" title="Jadwal harian" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/jadwal.png?w=640" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Potret idealisme prakuliah.</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/455/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/455/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=455&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/03/manusia-boleh-berencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/jadwal.png" medium="image">
			<media:title type="html">Jadwal harian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga minggu pertama di Eindhoven: daftar sepuluh besar (bagian II)</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/01/sepuluh-besar-eindhoven-2/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/01/sepuluh-besar-eindhoven-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 00:03:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[bruine bonen]]></category>
		<category><![CDATA[cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[eindhoven]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[masak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[8. Cuaca Baru-baru ini, Ortega, seorang kawan sejurusan dari Mexico menulis status FB-nya, &#8220;Today&#8217;s lesson: Never leave your raincoat at home, no matter how sunny it is. NEVER trust dutch weather!&#8221; Beberapa jam sebelumnya, usai berbenah, aku ingin pergi ke pasar Sabtu di Woensel Markt yang menjual apapun dengan harga miring. Matahari yang bersinar dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=458&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><strong>8. Cuaca</strong></p>
<p align="left">Baru-baru ini, Ortega, seorang kawan sejurusan dari Mexico menulis status FB-nya, &#8220;<em>Today&#8217;s lesson: Never leave your raincoat at home, no matter how sunny it is. NEVER trust dutch weather!&#8221;</em></p>
<p><span id="more-458"></span></p>
<p align="left">Beberapa jam sebelumnya, usai berbenah, aku ingin pergi ke pasar Sabtu di Woensel Markt yang menjual apapun dengan harga miring. Matahari yang bersinar dengan indahnya membawaku kepada nostalgia indah akan cuaca Bandung yang nyaris sempurna. Berlapiskan selembar kaos hitam tipis bergambar Petruk dan Hanoman (tidak lupa celana panjang dan kancut), aku menggowes menelusuri jalan Boschdijk dengan riang sambil berpikir dalam hati, &#8220;wah ini nih yang membuat bule suka ke Indonesia: pancaran sinar matahari yang menembus kulit dan menghangatkan tubuh.&#8221;</p>
<p align="left">Tidak sampai sejam setelah itu, gambaran indah itu pun sekejap sirna oleh matahari yang juga sirna oleh awan hitam. Kemudian, jatuhlah titik-titik air dari angkasa. Melihat hal itu, Fragoso, seorang kawan dari Mexico yang lain, hanya mengomel singkat dengan satu kata khas Amerika, &#8220;<em>F*ck</em>.&#8221;</p>
<p align="left">Syahdan, angin sejuk bersahabat yang tadinya merupakan pasangan sempurna dengan terik matahari tiba-tiba menjadi musuh jahat mengerikan yang tertawa sinis melihat umat manusia meringkukkan badan dan mengerang kedinginan. Kami pun setengah berlari memasuki toko elektronik yang menurut Octaviano, kawanku dari Indonesia, &#8220;paling hangat.&#8221; Ini membuat Helmi, kawanku yang lain, melontarkan ironi yang membuatku tersenyum simpul, &#8220;Kalau di Indo[nesia], orang <em>mah</em> masuk toko buat <em>ngadem</em>.&#8221;</p>
<p align="left">Penderitaan lebih dahsyat datang saat kukayuh sepeda pulang. Angin dingin menyelusupi tubuh lebih hebat lagi karena bersepeda menciptakan &#8220;angin&#8221; oleh gerak relatif terhadap udara sekitar. Rasanya tidak bisa kujelaskan lagi dengan kata-kata. Yang pasti, aku dibuatnya hampir menangis. Puji Tuhan aku masih sehat sampai tulisan ini dibuat.</p>
<p align="left">Konon, kalau mau memulai pembicaraan dengan orang Belanda asli dengan mudah, keluhkanlah cuaca. Kemungkinan besar mereka akan langsung berkomentar bernada setuju, sekaligus secara implisit membanggakan ketahanan tubuh mereka terhadap cuaca &#8220;sebentar-sebentar&#8221; ini.</p>
<p align="left">Kembali ke status FB Ortega. Sampai saat tulisan ini dibuat, sudah ada delapan orang yang mengacunginya jempol. Tujuh diantaranya mahasiswa baru TU/e&#8211;termasukku. Jelas, kami tidak bisa tidak setuju.</p>
<p align="left"><strong>7.  Makanan</strong></p>
<p align="left">Bagi mahasiswa pendatang pada umumnya, selain cuaca, makanan adalah keluhan utama. Kalau kita biasanya antre di kantin untuk nasi rames atau nasi padang, di sini orang rela antre panjang-panjang buat roti dan salad yang hampir tidak ada rasanya di lidah Indonesia. Suatu kali, kendati aneh, salad itu pun kumasukkan ke dalam sup tandoori khas India supaya lebih &#8220;berasa.&#8221;</p>
<p align="left">Rongrongan jiwa&#8211;atau lidah, mungkin&#8211;akan makanan yang lebih <em>&#8220;nendang&#8221;</em> paling terasa dalam minggu kedua TU/e Introductory Program (TIP). Kami diberi tiga roti, dua diantaranya seiras. Untuk isinya, diberikan selapis keju, atau, jika agak beruntung, dapat daging, yang juga selapis tipis. <em>Yah</em>, menu serba roti ini masih bisa berterima kalau hanya untuk sarapan. Sayangnya tidak. Menu yang sama <em>persis</em> diberikan untuk makan siang. Jadwal makan siang, yang biasanya kunantikan dengan antusias, jadi kehilangan daya tariknya.</p>
<p align="left">Ternyata bukan lidahku saja, kawan-kawan internasionalku pun kurang puas. Jangan dulu bertanya kepada pendatang dari China&#8211;negeri dengan makanan terenak di dunia versi Victor Samuel&#8211;, kawanku yang mengaku biasa makan roti seperti Mexico ataupun Turki saja protes. <em>&#8220;Oh I love bread very much,&#8221;</em> ujar Fragoso bersarkasme. Kalau mereka sudah mengeluh, aku hanya mengiyakan dengan semangat dan berseloroh. &#8220;<em>Yes, everyday they give us sandwich filled with bread.&#8221;</em></p>
<p align="left"><em> <a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00932.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-459" title="&quot;Bread filled with bread&quot;" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00932.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p align="left">Tapi mari kita bersikap adil. Oleh anugrah Tuhan, masih ada satu kue Belanda yang memanjakan lidah. <em><a title="Stroopwafel" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stroopwafel" target="_blank">Stroopwafel</a></em> namanya. Sejak pertama kali kue terbitan abad XVIII&#8211;<em><a href="http://www.rikomatic.com/blog/2008/03/how-to-eat-a-st.html" target="_blank">&#8220;the finest cookie ever devised by man&#8221;</a>&#8211;</em> ini menyentuh saraf-saraf kranial dalam lidah, otak ini spontan mengeluarkan perintah &#8220;habiskan, lalu ambil lagi&#8221;&#8211;yang  kemudian diresponi mulut dan tangan ini tanpa perlawanan. Sederhananya, <em>stroopwafel:</em>  renyah di luar, lembut di dalam, dan sedap dimakan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Gaufre_biscuit.jpg/800px-Gaufre_biscuit.jpg"><img class="  " title="Stroopwafel. Nyem!" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Gaufre_biscuit.jpg/800px-Gaufre_biscuit.jpg" alt="" width="360" height="241" /></a><p class="wp-caption-text">Stroopwafel. Nyem!</p></div>
<p align="left">Bagaimanapun, <em>stroopwafel</em> itu kue, <em>koek</em>; tidak mungkin menggantikan kebutuhan manusia Indonesia akan nasi dan lauk. Di sisi lain, kantin kampus juga tidak mampu memuaskan lidah&#8211;dan dompet tentunya. Jadi, setelah melalui pergulatan jiwa dan pikiran yang cukup serius, aku pun mengambil jalan keluar: memasak.</p>
<div id="attachment_460" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01149.jpg"><img class="size-medium wp-image-460" title="Memasak: sebuah jalan hidup" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01149.jpg?w=300&#038;h=277" alt="" width="300" height="277" /></a><p class="wp-caption-text">Memasak: sebuah jalan hidup</p></div>
<p align="left">Rasanya sekitar empat tahun lalu, ketika mulai hidup terkoteng-koteng di Kota Kembang, aku pernah bergumam dalam batin setelah habis memakan Indomie rebusan sendiri, &#8220;<em>Buset</em>, ini kalau dihitung-hitung, waktu persiapan dan cuci piringnya jauh lebih panjang dibanding makannya.&#8221; Sejak saat itu, rasanya tidak pernah ada pikiran sececah pun untuk memasak. Ditambah fakta bahwa makan di luar&#8211;Gelap Nyawang atau warung dekat kos&#8211;jauh lebih unggul dalam hal kesangkilan waktu  dan kemangkusan rasa, aku pun semakin yakin untuk tidak menyentuh kegiatan ala Rudy Choiruddin ini.</p>
<p align="left">Namun, tekad itu tidak mungkin dijalankan membabi-buta di sini. Memasak sudah menjadi &#8220;suratan&#8221; bagi para perantau akademis. Hanya saja, Roma tidak dibangun dalam sehari. Tekad harimau untuk memasak tidak akan membuat seorangpun menjadi ahli masak esok harinya. Intinya, <em>wajar</em>lah kalau masakan-masakan pertamaku tidak sesuai harapan. Tetapi,  <em>anugrah Tuhan</em> lah yang membuat beberapa racikanku sukses besar—setidaknya untuk lidah sendiri.</p>
<div id="attachment_461" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00016.jpg"><img class="size-medium wp-image-461" title="Rancangan awal: segalanya masih terlihat mudah dan indah" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00016.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Rancangan awal: segalanya masih terlihat mudah dan indah</p></div>
<div id="attachment_462" class="wp-caption aligncenter" style="width: 910px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00448.jpg"><img class="size-medium wp-image-462  " title="Ayam kluyuk yang berubah di tengah jalan jadi ayam goreng paprika. Tidak terlalu buruk kan?" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00448.jpg?w=900&#038;h=675" alt="" width="900" height="675" /></a><p class="wp-caption-text">Ayam kluyuk yang berubah di tengah jalan jadi ayam goreng paprika. Tidak terlalu buruk kan?</p></div>
<div id="attachment_463" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01161.jpg"><img class="size-medium wp-image-463" title="Sup kacang merah (&quot;Bruine Bonen&quot;) khas Manado. Boleh diadu!" src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01161.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sup kacang merah (&quot;Bruine Bonen&quot;) khas Manado. Boleh diadu!</p></div>
<p align="left">Masak-memasak bukan hanya masalah dapur. Hiruk-pikuk pradapur ternyata memakan waktu dan energi cukup banyak. Mulai dari perencanaan menu yang harus memperhatikan aspek nutrisi dan kebosanan, strategi pengadaan barang yang menunjung tinggi harkat dompet mahasiswa (diskon satu gratis satu pasar swalayan atau kemiringan harga pasar tumpah mingguan), sampai kepada penentuan jadwal memasak yang memakan banyak ruang dalam agenda. Dan pengalamanku membuktikan bahwa kegagalan dalam perencanaan-perencanaan ini akan berbanding lurus dengan laju jumlah terbukanya bungkus Indomie dalam sepekan.</p>
<p align="left">Aku dengar dari kawan Indonesia di sini bahwa dia ditanya dengan penuh heran oleh kawannya yang dari negara lain, <em>&#8220;How come you cannot cook?&#8221;</em> Pertanyaan ini menikam sanubariku cukup dalam. Kondisi Indonesia yang memberikan kenyamanan penuh kepada kita untuk duduk manis di meja menanti masakan terhidang rupanya tidak selamanya baik.</p>
<p align="left">Setidaknya mulai sekarang, aku harus menyemangati diriku dengan perkataan Auguste Gesteau, juru masak terkenal dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ratatouille_%28film%29" target="_blank">Ratatouille</a>. <em>Not everyone can be a good cook, but a good cook can come from anyone.</em></p>
<p align="left"><em>Akan dilanjutkan di tulisan mendatang.</em><br />
(karena istilah &#8220;bersambung&#8221; mengingatkanku pada sinetron)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/458/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/458/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=458&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/09/01/sepuluh-besar-eindhoven-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00932.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">&#34;Bread filled with bread&#34;</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6c/Gaufre_biscuit.jpg/800px-Gaufre_biscuit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Stroopwafel. Nyem!</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01149.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Memasak: sebuah jalan hidup</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00016.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rancangan awal: segalanya masih terlihat mudah dan indah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc00448.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ayam kluyuk yang berubah di tengah jalan jadi ayam goreng paprika. Tidak terlalu buruk kan?</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/09/dsc01161.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sup kacang merah (&#34;Bruine Bonen&#34;) khas Manado. Boleh diadu!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga minggu pertama di Eindhoven: daftar sepuluh besar</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/08/28/tiga-minggu-pertama-di-eindhoven-daftar-sepuluh-besar/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/08/28/tiga-minggu-pertama-di-eindhoven-daftar-sepuluh-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 20:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bar]]></category>
		<category><![CDATA[bier]]></category>
		<category><![CDATA[classical music]]></category>
		<category><![CDATA[eindhoven]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pub]]></category>
		<category><![CDATA[student]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata sudah tiga minggu sejak kaki ini menginjak tanah Belanda. Meski ini baru serambut dari segenap pengembaraan akademisku di sini, rasanya baik kalau aku cerita mengenai kesan pertama. Seperti kata orang, &#8220;kesan pertama paling berkesan&#8221; (first impression impresses the most) sebab di situlah terjadi tabrakan fenomena antara diri yang dibentuk masa lalu dengan realitas sekitar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=445&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata sudah tiga minggu sejak kaki ini menginjak tanah Belanda. Meski ini baru serambut dari segenap pengembaraan akademisku di sini, rasanya baik kalau aku cerita mengenai kesan pertama. Seperti kata orang, &#8220;kesan pertama paling berkesan&#8221; <em>(first impression impresses the most)</em> sebab di situlah terjadi tabrakan fenomena antara diri yang dibentuk masa lalu dengan realitas sekitar.</p>
<p>Memang, teori mengatakan bahwa bulan-bulan pertama di negeri orang disebut sebagai Tahap Bulan Madu. Layaknya turis yang ada dalam euforia bulan madu, pada tahap ini kita akan merasa senang dengan perbedaan-perbedaan, bahkan kondisi-kondisi tidak menyenangkan, yang ada. Gumaman &#8220;di sini ternyata begitu ya&#8221; akan mudah terlontar tanpa ada kesadaran mendalam akan kewajiban diri untuk beradaptasi. <span id="more-445"></span></p>
<p>Tahap yang berat&#8211;Tahap Penolakan&#8211;akan datang nanti ketika kesulitan-kesulitan itu mulai merasuki hidup keseharian. Saat itu, segala sesuatu yang &#8220;tidak cocok&#8221; akan selalu dikaitkan dengan kenyataan bahwa kita ada negara lain (padahal itu mungkin sering terjadi di negara sendiri). Di situ, bukan saja fenomena sesaat yang bertabrakan, tetapi juga rutinitas, kebiasaan, ritual, nilai, norma, gaya hidup, dan falsafah hidup. Ruang untuk toleransi pun mengecil. Konon, penyakit rindu rumah <span style="display:none;"> </span><span style="display:none;"> </span><em>(homesick)</em><span style="display:none;"> </span> ataupun rindu pasangan <em>(lovesick)</em> akan menjadi akut di tahap ini.<span style="display:none;"> </span></p>
<p>Aku tidak akan bercerita panjang mengenai teori ini. Fokus tulisan kali ini, sekali lagi, adalah kesan pertama. Kalau nanti aku sudah masuk Tahap Penolakan dan sudah muak dengan negeri bekas penjajah ini, mungkin nanti aku akan cerita panjang lagi sebagai bentuk pengobatan, kalau tidak mau disebut pelarian.</p>
<p>Ada sepuluh besar hal yang paling menarik di Eindhoven&#8211;setidaknya sampai saat ini. Daftar akan diurut berdasarkan yang paling berkesan secara negatif (<em>&#8220;gak gue banget&#8221;</em>) sampai yang paling positif (<em>&#8220;wah, coba di Indonesia kayak gini!&#8221;</em>). Mari.</p>
<p><strong>10.  Musik</strong></p>
<p>Di mana ada anak muda, di situ ada musik. Di taman kampus, stasiun, bar, lapangan, tempat BBQ, hampir di mana-mana. Mereka suka sekali meletakkan sofa ke taman, memasang speaker besar lalu kongko-kongko sambil dengar musik. Kadang juga mereka membawa boom box besar dan memutar lagu keras-keras sambil menunggu bus.</p>
<p>Sayang sejuta sayang, selera musiknya agak tidak cocok dengan kupingku,  kalau tidak bisa disebut kuping <em>Indonesia</em>. Mengapa? Karena sekitar 70% isinya <em>house music</em> . Kalau ada musik pop, itu pun kebanyakan aransemen &#8220;jedak-jeduk.&#8221; Sisanya adalah lagu Belanda yang membuat kami mahasiswa internasional hanya ngangguk-ngangguk mengikuti irama dan cuap-cuap tanpa kepastian.</p>
<p>Lama kelamaan, kalau dipikir-pikir dan dibayang-bayangkan, kami jadi kangen juga dengan ST12, Wali, Rhoma Irama, dan kawan-kawannya. &#8220;Kalau SM*SH manggung, sampai pukul berapa juga saya tungguin deh,&#8221; ujar Gayuhaningtyas, seorang kawan  yang saya yakin tidak akan memasukkan SM*SH di daftar sepuluh besar grup musik kesukaannya. Ketika berada di pub pun, sesekali kami mengangkat kedua jempol ke atas kepala sambil membayangkan tarikan musik dangdut. <em>Yah</em>, bagaimanapun, mungkin manusia punya kecenderungan untuk kembali ke &#8220;selera asal.&#8221;</p>
<p>Untungnya, masih ada <a href="http://www.muziekgebouweindhoven.nl/concerten/genres/35/orkestconcert">Frits Philips Muziekgebouw</a> yang menyajikan musik klasik. Ada orkestra lokal, &#8220;Het Brabants Orkest&#8221; (Noord-Brabant adalah nama provinsi di tempat tinggalku sekarang), yang  sebulan dua-tiga kali memainkan karya-karya dari zaman <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Baroque_music">Baroque </a>seperti &#8220;Matthäus-Passion&#8221;-nya Bach sampai pada karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Romantic_music#Late_Romantic_Era_.281850.E2.80.931900.29">zaman Romantik Akhir</a> seperti &#8220;Symfonie no. 1 &#8216;Titan&#8217;&#8221; gubahan Mahler. Ini adalah orkestra yang menjual tiket paling murah: &#8220;kasta terendah&#8221;-nya €16 (~Rp200ribu).</p>
<p>Ada juga kadang-kadang orkestra impor seperti Bach Collegium Japan arahan Masaaki Suzuki ataupun London Philharmonic Orchestra, meski lebih mahal. Kalau mau nonton Ton Koopman, sang maestro Baroque sekaligus guru dari Dr. Billy Kristanto, harus ke <a href="http://www.concertgebouw.nl/">Concertgebouw Amsterdam</a> (baca: tambah ongkos). Aku pun berpesan kepada diriku sendiri: berhemat dan menabunglah hai Victor Samuel!</p>
<p><strong>9.  Bir dan Bar</strong></p>
<p>Rasanya sulit memisahkan kedua hal ini satu dengan yang lain. Lebih sulit lagi memisahkan keduanya dari kehidupan orang-orang di sini. Baru-baru ini aku mengikuti seminar tentang kecanduan di TU/e. Secara statistik, orang-orang di provinsi Noord-Brabant minum alkohol paling banyak dibanding sebelas provinsi lain. Artinya, di seluruh Belanda, aku berada di provinsi yang paling &#8220;biasa&#8221; ngebir. Fakta: di toko,  bir dijual lebih murah daripada air mineral.<br />
<div id="attachment_448" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/dsc00909.jpg"><img src="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/dsc00909.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="Salah satu bar yang kami kunjungi" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-448" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu bar yang kami kunjungi</p></div></p>
<p>Bar, atau pub, adalah tempat utama bagi mahasiswa di sini untuk bersenang-senang di akhir pekan. Apalagi didukung fakta bahwa di Eindhoven, bahkan di seluruh Belanda, <em>tidak ada mal</em>&#8211;tempat yang digemari muda-mudi Indonesia untuk &#8220;jalan.&#8221; Bukan saja mal, tempat karaoke seperti Inul Vista dan Nav juga tak akan ditemukan. Bioskop pun cuma sebiji di seluruh penjuru kota terbesar kelima Belanda ini. Restoran jelas bukanlah pilihan yang tepat untuk dikunjungi sering, mengingat harganya yang melangit. Musik yang &#8220;membius&#8221; dan bir yang murah menyebabkan bar dijadikan pilihan rutin.</p>
<p>Tak heran, di acara-acara TU/e Introduction Program (&#8220;ospek&#8221; mahasiswa baru TU/e) yang baru berakhir kemarin, bir dan bar adalah salah satu hiburan utama yang disajikan.  Salah satu hari, kami tur keliling bar: mengunjungi enam bar&#8211;ya, <em>enam!</em>&#8211;dalam satu malam. Bahkan di acara penutup esoknya, kami &#8220;mandi&#8221; bir. Memang kalau masalah <em>partij</em>, orang Belanda jago banget. Lihat betapa &#8220;seru&#8221;-nya itu di video berikut.</p>
<p><iframe width="640" height="360" src="http://www.youtube.com/embed/ofWxyugy2cc?fs=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Tapi, menurutku, nongkrong di bar bukanlah media yang paling mangkus untuk memperdalam relasi dengan teman. Saat itu, kuperhatikan, yang dilakukan orang cuma dua: minum dan joget. Suara musik terlalu keras dan tidak mendukung diskusi. Mungkin memang tujuan utama dari ngebir dan ngebar bukanlah memperdalam pengenalan dan kerjasama satu sama lain, tetapi lebih kepada kenikmatan perseorangan melalui musik dan minuman.</p>
<p>Meskipun aku tidak akan menjadi sepenuhnya anti terhadap bar dan bir, ada baiknya aku mengikuti saran manusia terbijak dalam sejarah, &#8220;anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.&#8221;</p>
<p><em>Bersambung.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=445&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/08/28/tiga-minggu-pertama-di-eindhoven-daftar-sepuluh-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://vicsam.files.wordpress.com/2011/08/dsc00909.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Salah satu bar yang kami kunjungi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>aksi hari ini</title>
		<link>http://vicsam.wordpress.com/2011/07/29/aksi-hari-ini-2/</link>
		<comments>http://vicsam.wordpress.com/2011/07/29/aksi-hari-ini-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 23:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Victor Samuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[aksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vicsam.wordpress.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah angkot Cisitu-Tegal Lega nan ungu warnanya. V: !!!!! V: (grasak-grusuk lihat tas bawaan) V: . . . V: (sekali lagi memeriksa isi tas) V: (clingak-clinguk panik sambil berpikir yang tidak-tidak) V: (berpikir keras) V: (menggeser pantat dan menyondongkan kepala ke penumpang sebelah) V: (cengengesan) Mas, boleh minta seribu ga? Saya ga punya duit&#8230; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=439&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah angkot Cisitu-Tegal Lega nan ungu warnanya.</p>
<p>V: !!!!!<br />
V: (grasak-grusuk lihat tas bawaan)<br />
V: . . .<br />
V: (sekali lagi memeriksa isi tas)<br />
V: (clingak-clinguk panik sambil berpikir yang tidak-tidak)<br />
V: (berpikir keras)<br />
V: (menggeser pantat dan menyondongkan kepala ke penumpang sebelah)<br />
V: (cengengesan) Mas, boleh minta seribu ga? Saya ga punya duit&#8230;</p>
<p>Dan kisah pun berakhir bahagia. Terima kasih kepada Mas Kuda, mahasiswa S2 SBM ITB, yang ganteng dan murah hati.  </p>
<p>Pesan cerita: kalau ada yang terlihat panik di angkot setelah ngecek tas atau dompet berulang-ulang, berbaikhatilah kepadanya. =)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vicsam.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vicsam.wordpress.com/439/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vicsam.wordpress.com&amp;blog=9161961&amp;post=439&amp;subd=vicsam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vicsam.wordpress.com/2011/07/29/aksi-hari-ini-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1d4699d7b54c0a1a0cd7f6725269d0ba?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vicsam</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
